Kenalan yuk sama salah satu penyakit di bidang obstetri dan ginekologi yaitu endometriosis, ada yang pernah denger gak nama penyakit ini? Atau mungkin ada saudara, keluarga atau kenalan yang pernah didiagnosis penyakit ini? Kita bahas langsung yaa!
Endometriosis, apa sih itu?
Untuk namanya sendiri endometriosis berasal dari bahasa Yunani yaitu endo yang berarti “di dalam”, metra yang berarti “uterus”, dan osis yang berarti “penyakit”. Untuk letaknya yaitu di rahim, lebih tepatnya lapisan epitel yang melapisi rahim perempuan.
Secara pengertiannya endometriosis ini adalah ditemukannya jaringan endometrium berlokasi ektopik, di luar kavum uteri, lesi endometriosis tersebut dapat ditemukan di beberapa tempat, yaitu peritoneum panggul, ovarium, dinding uterus, kavum douglasi, septum rektovagina, ureter, vesica urinaria, bahkan ditemukan lokasi jauh walaupun jarang didapat misalnya usus, apendik, perikardium, pleura, dan sebagainya.
Jadi temen-temen ngebayanginnya gini, ada jaringan (lapisan yg keluar ketika haid) yang tumbuh selain di dalam rongga rahim, nah itu bisa dimana aja suka-suka penyakitnya, bisa di saluran kencing, usus, rongga dada, pokoknya bebas pilih tempat, tapi lokasi favoritnya yaitu di dekat rahim.
Terus yang bisa kena endometriosis ini siapa aja?
Setiap perempuan ada risiko untuk terkena ini. Penyakit ini memengaruhi sekitar 10% populasi wanita yaitu 190 juta wanita dan anak perempuan dalam rentang usia reproduksi secara global. Terdapat 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15−49 tahun.
Waduhh, terus gimana biar tau kalo aku kena penyakit ini atau enggak?
Untuk penegakan diagnosis endometriosis ini perlu dari hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan. Gak bisa langsung self diagnosed ya. Untuk skrining awalnya kita bisa tau dari gejala klinis atau keluhan yang timbul dari diri sendiri, untuk keluhan yang bisa timbul terkait endometriosis ini ada beberapa yaitu keluhan nyeri, keluhan ini bisa nyeri panggul, dismenore atau nyeri pada saat sedang haid, dan dispareuni atau nyeri saat berhubungan intim. Terus untuk perempuan yang sudah menikah biasanya ada keluhan infertilitas, jadi bisa juga ditanyain udah berapa lama usia pernikahan tanpa anak.
Terus kalo udah gini mesti gimana dong?
Kalo udah begini teman-teman yang ada keluhan nyeri setiap datang bulan atau haid, boleh datang ke dokter umum atau dokter spesialis obsgin ya untuk konsul dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ihh takut banget, kira-kira bisa sembuh gak ya? Bisa punya anak gak ya?
Endometriosis sendiri sulit disembuhkan kecuali bila pasien sudah menopause, karena penyakit ini terkait dengan estrogen. Estrogen ini selalu diproduksi lebih tinggi ditubuh perempuan setiap bulannya ketika siklus haid terjadi.
Untuk penatalaksanaannya nanti pasien bakal diobati sesuai gejala. Gejala yang paling mengganggu itu adalah nyeri. Sehingga nanti akan dikasih pereda nyeri. Selain dikasih obat bisa juga dipertimbangkan untuk dilakukan pembedahan atau operasi. Loh kok mesti operasi?
Soalnya penampakan endometriosis didalam tubuh orang yang terkena itu seperti ini.
Ini berbagai penampakan endometriosis di dalam tubuh, bisa bentuknya bulat-bulat merah, bintik-bintik biru–hitam, bisa sampe membentuk bola berisi jaringan endometrium yang disebut dengan kista cokelat dan gak cuma itu bisa bikin lengket organ-organ disekitarnya.
Prognosis atau prediksi penyakit pada pasien dengan endometriosis yang telah melakukan penanganan pembedahan maka angka kesembuhan menjadi 10-20% pertahun.
Jadi untuk kemungkinan sembuh dan bisa punya anak nantinya itu masih ada. Seperti yang diketahui juga untuk tatalaksana infertilitas nantinya itu ada beberapa yaitu bisa dengan inseminasi intra uterin sampe bayi tabung.
Kata konsulen aku, kasus endometriosis ini banyak banget sebenernya, dan penatalaksaannya bisa sederhana karena rata-rata pasien respon dengan terapi obat-obatan saja, tapi yang bikin sulit penyakit ini adalah lama terdiagnosis karena kebanyakan pasien lama untuk datang ke dokter, rata-rata keterlambatannya bisa sampe 4-11 tahun loh.
Bagi reader yang merasa keluhannya mirip-mirip sama yang aku omongin di atas dan udah mengalaminya beberapa tahun, boleh segera konsul ke dokter ya supaya semakin cepat dideteksi maka semakin cepat ditangani
Sampai ketemu dicerita selanjutnya🤗
Referensi:
1. Tsamantioti ES, Mahdy H. Endometriosis. [Updated 2021 Aug 25]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567777/
2. Parasar P, Ozcan P, Terry KL. Endometriosis: Epidemiologi, Diagnosis dan Manajemen Klinis. Curr Obstet Ginekol Rep . 2018;6(1):34-41. doi:10.1007/s13669-017-0187-1
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Klasifikasi Penyakit Internasional, Revisi ke-11 (ICD-11) Jenewa: WHO 2018.
4. Dr. H. Hendy Hendarto, dr., Sp.OG(K). ENDOMETRIOSIS: Dari aspek teori sampai penanganan klinis. Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR: Airlangga University Press.
5. Ilmu Kebidanan Edisi 4 oleh: Prawirohardjo, Sarwono Terbitan: (2014)