Haloo kita ketemu lagi nihh, kali ini kita bahas mengenai ‘skizofrenia’ atau manusia-manusia yang dapat dengan layak kita panggil ODGJ yaitu Orang Dengan Gangguan Jiwa dibanding kita berteriak memanggil mereka dengan sebutan ‘orang gila’.
Sebelum membahas mengenai skizofrenia, kenalan dulu dengan apa itu sehat?
Pengertian sehat menurut WHO (World Health Organization) yaitu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat.
Terus kalo jiwa yang sehat itu apa dong?
Menurut UU No.18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa yaitu kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
Hmm hubungan ini sama skizofrenia apa ya? Jadi pada pasien dengan skizofrenia ini terdapat gangguan pada penilaian realitas sehingga pasien skizofrenia mengalami suatu perubahan yang konsisten dan bermakna terkait seluruh aspek kehidupannya sehingga ia tidak mampu untuk berkontribusi dalam komunitasnya.
Masih penasaran sama skizofrenia ini? Langsung bahas yuk. Apa sih skizofrenia itu?
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizen” yang berarti “terpisah” atau “pecah”, dan “phren” yang artinya “jiwa”. Skizofrenia merupakan suatu sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul, anhedonia, deteriorasi, serta dapat ditemukan uji kognitif yang buruk. Skizofrenia juga merupakan istilah psikosis yang menggambarkan mispersepsi pikiran dan persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi pasien sebagai kenyataan, dan mencakup waham dan halusinasi.
Untuk melihat seberapa kacau penyakit ini pada manusia mungkin teman-teman pernah melihat mereka yang ada di jalanan yang berkeliling dengan baju seadanya, perawatan diri yang buruk, serta sering kali perilakunya agresif dan mulutnya sering komat-kamit berbicara sendiri. Begitulah tampilan pasien dengan skizofrenia yang tak tertangani, yang keluarganya sendiri tidak mampu merawatnya sehingga akhirnya berkeliaran di jalanan. Pasien dengan skizofrenia ini hidup di dalam dunia khayalannya sendiri.
Seberapa sering skizofrenia ini terjadi?
Menurut Infodatin tahun 2019, insidensi tahunan skizofrenia di Indonesia sekitar 6,7% per 10.000 dengan beberapa variasi geografik. Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1% populasi, biasanya bermula di bawah usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup, dan mengenai orang dari semua kelas sosial. Usia puncak onset atau kejadian untuk laki-laki adalah usia 15 sampai 25 tahun, dan untuk wanita usia puncak onsetnya adalah 25 sampai 35 tahun. Bagaimana menurut teman-teman apakah angka kejadian 6,7% per 10.000 jiwa itu cukup banyak?
Pertanyaan selanjutnya yaitu kok bisa ya seseorang menderita skizofrenia?
Sampai saat ini, belum ditemukan etiologi atau penyebab pasti skizofrenia, namun skizofrenia tidak hanya disebabkan oleh satu penyebab, melainkan gabungan antara berbagai faktor. Wah faktornya apa saja ya?
- Faktor Neurobiologis, termasuk faktor genetika yaitu adanya pengaruh genetika atau keturunan terhadap terjadinya skizofrenia yang telah membuktikan bahwa terjadinya peningkatan risiko skizofrenia bila terdapat anggota keluarga lainnya yang menderita skizofrenia, terutama bila hubungan keluarga tersebut dekat (semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin tinggi risikonya). Misal bila ayahnya menderita skizofrenia maka kemungkinan anaknya menderita skizofrenia lebih tinggi bila dibandingkan dengan sepupunya yang menderita skizofrenia.
- Faktor neuroanatomi struktural
- Faktor neurokimia
- Faktor psikososial
Keempat faktor ini saling berhubungan dan berkaitan hingga terbentuklah penderita dengan skizofrenia.
Lalu untuk gejala penyakit skizofrenia ini apa saja?
Gejala skizofrenia terbagi menjadi 2 yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif ini terdiri dari halusinasi dan waham.
- Halusinasi adalah pengalaman yang dirasakan tanpa adanya stimulus eksternal yang cukup untuk membangkitkan pengalaman tersebut. Halusinasi dapat terjadi pada modalitas sensorik apapun (visual, pendengaran, penciuman, pengecapan, proprioseptif, taktil, dll). Pasien nantinya akan mendengar suara atau bisikan yang sebenarnya bagi orang normal suara tersebut tidaklah ada, halusinasi itu hanya muncul dari diri pasien. Pasien juga dapat melihat bayangan atau orang disekitarnya, yang sering dirancukan dengan gangguan gaib bagi kita di Indonesia.
- Waham adalah keyakinan yang tetap dan salah yang tidak dipahami oleh seseorang, bahkan di hadapan bukti yang terbukti bertentangan dengan validitasnya. Waham ini nantinya akan beragam jenisnya. Salah satunya yaitu waham kebesaran, yaitu pandangan diri yang agung, luar biasa, namun tidak realistis. Waham kebesaran misalnya pasien merasa bahwa dirinya adalah Tuhan atau Nabi.
Gejala negatif dapat berupa kesulitan untuk mengeskpresikan emosi dan berfungsi secara normal. Pasien biasanya akan mulai menarik diri, hal-hal mulai terasa tidak menyenangkan, ekspresi wajah datar, dan lain sebagainya.
Pasien juga mungkin mulai tampak malas bekerja dan lebih memilih berdiam di kamar, melamun, menyendiri serta menjadi lebih pendiam.
Itulah beberapa gejala dari skizofrenia. Biasanya keluarga tidak menyadari kapan waktu pasti perubahan sikap dan perilaku pasien mulai terjadi, namun perubahan perilaku yang siginifikan ini mulai terasa mengganggu ketika pasien mulai sering marah, berbicara sendiri, perawatan diri mulai buruk yaitu pasien mulai malas mengurus diri, mandi, menyisir rambut, mengganti baju, dan lainnya. Sehingga keluarga mulai memutuskan untuk membawa pasien berobat.
Selain itu banyak keluarga pasien yang mengira bahwa keluhan-keluhan yang terjadi tersebut terkait adanya gangguan atau perbuatan terkait hal gaib, kemudian keluarga memutuskan membawa pasien datang ke ‘orang pintar’, dan terkadang sampai mengunjungi berbagai tempat ‘orang pintar’ terlebih dahulu sebelum memutuskan berobat ke dokter. Bila teman-teman mengetahui keluarga atau kenalan atau barangkali tetangga dengan keluhan diatas boleh untuk menyarankan mengunjungi dokter untuk berobat atau pun berkonsultasi terkait keluhan yang dialami dan lebih baik jangan ditunda!
Dan ingat jangan pernah pasung mereka yang kalian anggap orang dengan ganggun jiwa itu!!
Referensi:
- Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III). 2013. Cetakan kedua. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia
- Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock’s concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.h.147-75.
- Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2019. Kesehatan Jiwa. Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar