Ketika stase psikiatri kemarin sempat visit pasien skizofrenia tapi pasiennya juga tuli. Terus pas ditanyain sama keluarganya, si pasien bilang kalo dia denger suara-suara. Terus konsulen psikiatri langsung ngomong ke kita, “tuh aneh kan padahal dia tuli loh kok bisa ya dia tetep denger suara-suara?”
Dokternya nanya gitu ke koas biar si koas baca sendiri lebih lanjut, eh emang dasar koasnya pemalas bacanya baru bisa sekarang alias mundur 2 minggu dari periode stase.
Hmm yuk bahas, pasien-pasien skizofrenia ini memiliki salah satu gejala yang disebut halusinasi, halusinasi ini ada banyak: halusinasi auditorik, visual, penciuman ataupun indera lainnya. Pengertian dari halusinasi itu sendiri yaitu persepsi yang salah terhadap stimulus eksternal.
Pasien dengan skizofrenia biasanya memiliki halusinasi auditorik, yaitu pasien mendengar suara/bisikan yang sebenarnya tuh gak ada. Balik lagi, kok bisa pasien tuli dengan skizofrenia denger2 suara juga?
Nah ini ada salah satu laporan kasus di Denmark tahun 2013, yang membahas mengenai “Auditory Hallucinations in a Deaf Patient: A Case Report”, jadi pada laporan kasus ini pasien terdiagnosis severe hearing loss, dengan pemeriksaan lebih lanjut ternyata pasien masih bisa mendengar pada telinga kanannya.
Pasien memiliki 3 kali episode halusinasi selama rentang usia 16 - 27 tahun.
- Halusinasi auditorik, yaitu suara ayah dan ibunya yang seperti biasa memberikan semangat dan kata-kata yang memotivasi diri pasien. Suara ini terdengar dari telinga kanan pasien.
- Halusinasi visual, yaitu pasien melihat sepupunya yang sudah meninggal, pasien berbicara dengan sepupu walau tidak ingat apa isi pembicaraannya, pasien berkomunikasi dengan mendengar suara sepupu dan dengan membaca gerakan bibir sepupunya.
- Halusinasi auditorik kembali yaitu suara laki-laki yang terdengar mengancam yang menyuruh pasien melalukan tindakan-tindakan berbahaya. Suara ini pasien dengar pada kedua telinganya.
Masih belum diketahui bagaimana mekanisme pasien tuli tersebut dapat memiliki halusinasi auditorik, seperti halnya patofisiologi penyakit ataupun keadaan lain yang juga masih banyak yang belum diketahui mekanismenya dalam dunia medis. Namun di bagian akhir jurnal ini dirangkum poin pembelajaran yaitu:
- Halusinasi pendengaran lebih sering terjadi pada pasien dengan gangguan pendengaran.
- Prosedur diagnostik harus mencakup skala khusus untuk evaluasi gejala psikotik pada pasien dengan gangguan pendengaran.
- Pemeriksaan somatik menyeluruh termasuk pemeriksaan neuroimaging harus dilakukan.
Populasi tuli merupakan komunitas yang kurang dipelajari dan kurang terlayani sehingga sering terjadi kesalahpahaman. Pada laporan kasus ini dijelaskan bahwa kejadian halusinasi auditorik pada pasien tuli masih jarang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, hal ini merupakan hal yang sama-sama sulit bagi klinisi dan pasien, sebab masih menjadi perdebatan antar psikiatri terkait keluhan halusinasi auditorik pada pasien tuli dan juga sulit bagi pasien dalam menjelaskan fenomena yang pasien alami.
Drop your opinion👇
Referensi:
- Pedersen N., & Nielsen R. (2013). Auditory hallucinations in a deaf patient: A case report. Case Reports in Psychiatry, 2013, 659–698. 10.1155/2013/659698
- Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock’s concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.
- Ethan Anglemyer, Craig Crespi, "Misinterpretation of Psychiatricw Illness in Deaf Patients: Two Case Reports", Case Reports in Psychiatry, vol. 2018, Article ID 3285153, 4 pages, 2018.https://doi.org/10.1155/2018/3285153







