Sabtu, 18 Juni 2022

Stase Psikiatri

Ketika stase psikiatri kemarin sempat visit pasien skizofrenia tapi pasiennya juga tuli. Terus pas ditanyain sama keluarganya, si pasien bilang kalo dia denger suara-suara. Terus konsulen psikiatri langsung ngomong ke kita, “tuh aneh kan padahal dia tuli loh kok bisa ya dia tetep denger suara-suara?”




Dokternya nanya gitu ke koas biar si koas baca sendiri lebih lanjut, eh emang dasar koasnya pemalas bacanya baru bisa sekarang alias mundur 2 minggu dari periode stase.


Hmm yuk bahas, pasien-pasien skizofrenia ini memiliki salah satu gejala yang disebut halusinasi, halusinasi ini ada banyak: halusinasi auditorik, visual, penciuman ataupun indera lainnya. Pengertian dari halusinasi itu sendiri yaitu persepsi yang salah terhadap stimulus eksternal. 


Pasien dengan skizofrenia biasanya memiliki halusinasi auditorik, yaitu pasien mendengar suara/bisikan yang sebenarnya tuh gak ada. Balik lagi, kok bisa pasien tuli dengan skizofrenia denger2 suara juga?







Nah ini ada salah satu laporan kasus di Denmark tahun 2013, yang membahas mengenai “Auditory Hallucinations in a Deaf Patient: A Case Report”, jadi pada laporan kasus ini pasien terdiagnosis severe hearing loss, dengan pemeriksaan lebih lanjut ternyata pasien masih bisa mendengar pada telinga kanannya.




Pasien memiliki 3 kali episode halusinasi selama rentang usia 16 - 27 tahun.

  1. Halusinasi auditorik, yaitu suara ayah dan ibunya yang seperti biasa memberikan semangat dan kata-kata yang memotivasi diri pasien. Suara ini terdengar dari telinga kanan pasien.
  2. Halusinasi visual, yaitu pasien melihat sepupunya yang sudah meninggal, pasien berbicara dengan sepupu walau tidak ingat apa isi pembicaraannya, pasien berkomunikasi dengan mendengar suara sepupu dan dengan membaca gerakan bibir sepupunya.
  3. Halusinasi auditorik kembali yaitu suara laki-laki yang terdengar mengancam yang menyuruh pasien melalukan tindakan-tindakan berbahaya. Suara ini pasien dengar pada kedua telinganya. 

Masih belum diketahui bagaimana mekanisme pasien tuli tersebut dapat memiliki halusinasi auditorik, seperti halnya patofisiologi penyakit ataupun keadaan lain yang juga masih banyak yang belum diketahui mekanismenya dalam dunia medis. Namun di bagian akhir jurnal ini dirangkum poin pembelajaran yaitu:

  • Halusinasi pendengaran lebih sering terjadi pada pasien dengan gangguan pendengaran. 
  • Prosedur diagnostik harus mencakup skala khusus untuk evaluasi gejala psikotik pada pasien dengan gangguan pendengaran. 
  • Pemeriksaan somatik menyeluruh termasuk pemeriksaan neuroimaging harus dilakukan.

Populasi tuli merupakan komunitas yang kurang dipelajari dan kurang terlayani sehingga sering terjadi kesalahpahaman. Pada laporan kasus ini dijelaskan bahwa kejadian halusinasi auditorik pada pasien tuli masih jarang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, hal ini merupakan hal yang sama-sama sulit bagi klinisi dan pasien, sebab masih menjadi perdebatan antar psikiatri terkait keluhan halusinasi auditorik pada pasien tuli dan juga sulit bagi pasien dalam menjelaskan fenomena yang pasien alami.


Drop your opinion👇


Referensi: 

  • Pedersen N., & Nielsen R. (2013). Auditory hallucinations in a deaf patient: A case report. Case Reports in Psychiatry, 2013, 659–698. 10.1155/2013/659698
  • Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock’s concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.
  • Ethan Anglemyer, Craig Crespi, "Misinterpretation of Psychiatricw Illness in Deaf Patients: Two Case Reports", Case Reports in Psychiatry, vol. 2018, Article ID 3285153, 4 pages, 2018.https://doi.org/10.1155/2018/3285153

Senin, 06 Juni 2022

Skizofrenia #KenalanYuk



Haloo kita ketemu lagi nihh, kali ini kita bahas mengenai ‘skizofrenia’ atau manusia-manusia yang dapat dengan layak kita panggil ODGJ yaitu Orang Dengan Gangguan Jiwa dibanding kita berteriak memanggil mereka dengan sebutan ‘orang gila’. 


Sebelum membahas mengenai skizofrenia, kenalan dulu dengan apa itu sehat?


Pengertian sehat menurut WHO (World Health Organization) yaitu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. 


Terus kalo jiwa yang sehat itu apa dong?


Menurut UU No.18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa yaitu kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. 

Hmm hubungan ini sama skizofrenia apa ya? Jadi pada pasien dengan skizofrenia ini terdapat gangguan pada penilaian realitas sehingga pasien skizofrenia mengalami suatu perubahan yang konsisten dan bermakna terkait seluruh aspek kehidupannya sehingga ia tidak mampu untuk berkontribusi dalam komunitasnya.


Masih penasaran sama skizofrenia ini? Langsung bahas yuk. Apa sih skizofrenia itu?


Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizen” yang berarti “terpisah” atau “pecah”, dan “phren” yang artinya “jiwa”. Skizofrenia merupakan suatu sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul, anhedonia, deteriorasi, serta dapat ditemukan uji kognitif yang buruk. Skizofrenia juga merupakan istilah psikosis yang menggambarkan mispersepsi pikiran dan persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi pasien sebagai kenyataan, dan mencakup waham dan halusinasi.

Untuk melihat seberapa kacau penyakit ini pada manusia mungkin teman-teman pernah melihat mereka yang ada di jalanan yang berkeliling dengan baju seadanya, perawatan diri yang buruk, serta sering kali perilakunya agresif dan mulutnya sering komat-kamit berbicara sendiri. Begitulah tampilan pasien dengan skizofrenia yang tak tertangani, yang keluarganya sendiri tidak mampu merawatnya sehingga akhirnya berkeliaran di jalanan.  Pasien dengan skizofrenia ini hidup di dalam dunia khayalannya sendiri.


Seberapa sering skizofrenia ini terjadi?


Menurut Infodatin tahun 2019, insidensi tahunan skizofrenia di Indonesia sekitar 6,7% per 10.000 dengan beberapa variasi geografik. Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1% populasi, biasanya bermula di bawah usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup, dan mengenai orang dari semua kelas sosial. Usia puncak onset atau kejadian untuk laki-laki adalah usia 15 sampai 25 tahun, dan untuk wanita usia puncak onsetnya adalah 25 sampai 35 tahun. Bagaimana  menurut teman-teman apakah angka kejadian 6,7% per 10.000 jiwa itu cukup banyak?


Pertanyaan selanjutnya yaitu kok bisa ya seseorang menderita skizofrenia?


Sampai saat ini, belum ditemukan etiologi atau penyebab pasti skizofrenia, namun skizofrenia tidak hanya disebabkan oleh satu penyebab, melainkan gabungan antara berbagai faktor. Wah faktornya apa saja ya?

  • Faktor Neurobiologis, termasuk faktor genetika yaitu adanya pengaruh genetika atau keturunan terhadap terjadinya skizofrenia yang telah membuktikan bahwa terjadinya peningkatan risiko skizofrenia bila terdapat anggota keluarga lainnya yang menderita skizofrenia, terutama bila hubungan keluarga tersebut dekat (semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin tinggi risikonya). Misal bila ayahnya menderita skizofrenia maka kemungkinan anaknya menderita skizofrenia lebih tinggi bila dibandingkan dengan sepupunya yang menderita skizofrenia.
  • Faktor neuroanatomi struktural
  • Faktor neurokimia
  • Faktor psikososial

Keempat faktor ini saling berhubungan dan berkaitan hingga terbentuklah penderita dengan skizofrenia.


Lalu untuk gejala penyakit skizofrenia ini apa saja?


Gejala skizofrenia terbagi menjadi 2 yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif ini terdiri dari halusinasi dan waham. 

  • Halusinasi adalah pengalaman yang dirasakan tanpa adanya stimulus eksternal yang cukup untuk membangkitkan pengalaman tersebut. Halusinasi dapat terjadi pada modalitas sensorik apapun (visual, pendengaran, penciuman, pengecapan, proprioseptif, taktil, dll). Pasien nantinya akan mendengar suara atau bisikan yang sebenarnya bagi orang normal suara tersebut tidaklah ada, halusinasi itu hanya muncul dari diri pasien. Pasien juga dapat melihat bayangan atau orang disekitarnya, yang sering dirancukan dengan gangguan gaib bagi kita di Indonesia.
  • Waham adalah keyakinan yang tetap dan salah yang tidak dipahami oleh seseorang, bahkan di hadapan bukti yang terbukti bertentangan dengan validitasnya. Waham ini nantinya akan beragam jenisnya. Salah satunya yaitu waham kebesaran, yaitu pandangan diri yang agung, luar biasa, namun tidak realistis. Waham kebesaran misalnya pasien merasa bahwa dirinya adalah Tuhan atau Nabi. 

Gejala negatif dapat berupa kesulitan untuk mengeskpresikan emosi dan berfungsi secara normal. Pasien biasanya akan mulai menarik diri, hal-hal mulai terasa tidak menyenangkan, ekspresi wajah datar, dan lain sebagainya. 

Pasien juga mungkin mulai tampak malas bekerja dan lebih memilih berdiam di kamar, melamun, menyendiri serta menjadi lebih pendiam. 


Itulah beberapa gejala dari skizofrenia. Biasanya keluarga tidak menyadari kapan waktu pasti perubahan sikap dan perilaku pasien mulai terjadi, namun perubahan perilaku yang siginifikan ini mulai terasa mengganggu ketika pasien mulai sering marah, berbicara sendiri, perawatan diri mulai buruk yaitu pasien mulai malas mengurus diri, mandi, menyisir rambut, mengganti baju, dan lainnya. Sehingga keluarga  mulai memutuskan untuk membawa pasien berobat.  


Selain itu banyak keluarga pasien yang mengira bahwa keluhan-keluhan yang terjadi tersebut terkait adanya gangguan atau perbuatan terkait hal gaib, kemudian keluarga memutuskan membawa pasien datang ke ‘orang pintar’, dan terkadang sampai mengunjungi berbagai tempat ‘orang pintar’ terlebih dahulu sebelum memutuskan berobat ke dokter. Bila teman-teman mengetahui keluarga atau kenalan atau barangkali tetangga dengan keluhan diatas boleh untuk menyarankan mengunjungi dokter untuk berobat atau pun berkonsultasi terkait keluhan yang dialami dan lebih baik jangan ditunda! 


Dan ingat jangan pernah pasung mereka yang kalian anggap orang dengan ganggun jiwa itu!!




Referensi:

  • Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III). 2013. Cetakan kedua. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia
  • Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock’s concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.h.147-75. 
  • Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2019. Kesehatan Jiwa. Jakarta.


Sabtu, 04 Juni 2022

Status Epileptikus #KenalanYuk


Kenalan yuk sama salah satu kegawatdaruratan di bidang neurologi. Apakah ituu? Iya sesuai judulnya yaitu status epileptikus. Apa sih status epileptikus itu? Apa mirip sama epilepsi yang kalian pernah dengar? Epilepsi sendiri itu apa? 


Sebelumnya kita bahas dulu mengenai epilepsi. Apa ya epilepsi itu? Kalo dalam bahasa awamnya apa sis? Hehe. 


Epilepsi dalam bahasa awamnya lebih sering kita kenal dengan istilah ayan. Epilepsi ini sendiri merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermitten yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal dan disebabkan oleh berbagai etiologi. Jadi singkatnya ‘ayan’ ini merupakan bangkitan kejang yang terjadi secara paroksismal yaitu tiba-tiba datang dan tiba tiba hilang. 


Setelah kita tahu mengenai epilepsi baru kita lanjut ke bagian ‘apa sih status epileptikus itu?’ ‘Kok bisa jadi termasuk kegawatdaruratan di bidang neurologi atau saraf sih?’


Status epileptikus merupakan suatu keadaan adanya bangkitan kejang selama 5 menit atau lebih dengan aktivitas kejang klinis dan/atau elektrografik berkelanjutan atau aktivitas kejang berulang tanpa pemulihan di antara kejang. Nahh jadi pada pasien yang mengalami kejang yang lebih dari 5 menit, atau ada pasien yang kejang terus belum sempat sadar dan lanjut kejang lagi maka bisa langsung dibawa ke unit gawat darurat terdekat, karena bisa jadi itu status epileptikus yang disebutkan tadi! Hal ini menjadi kegawatdaruratan sebab bila kejang tidak dihentikan maka dikhawatirkan akan terjadi kerusakan lebih lanjut pada otak penderita. 


Pembagian klasifikasi internasional berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE) membagi kejang menjadi 2 golongan utama : serangan parsial (partial onset seizures) dan serangan umum (generalized-onset seizures). Serangan parsial dimulai pada satu areafokal di korteks serebri, sedangkan serangan umum dimulai secara simultan di kedua hemisfer.


Gimana kita bisa tahu kalo seseorang ini sedang kejang?

Kejang sendiri bentuknya bermacam-macam, oleh karena itu kita perlu tahu terlebih dahulu untuk menentukan apakah seseorang ini sedang kejang atau tidak. Terus bentuk kejang itu apa aja dong?

Bentuk kejang yang terjadi pada seseorang bisa beragam yaitu mulai dari:

  1. Bengong atau yang dikenal dengan kejang absans. Pada kejang ini penderita akan tampak seperti bengong ketika penderita sedang melakukan aktivitas misalnya sedang makan kemudian bengong, misal sedang berjalan kemudian bengong. 

  2. Kejang seperti yang kita tahu, yaitu tangan dan kaki kaku kemudian bergerak yang berulang, yang biasanya kita sebut dengan kelojotan terjadi pada kejang tonik klonik, yang terkadang disertai dengan mulut berbusa, mata menjadi putih semua bahkan hingga mengompol.

  3. Kejang yang hanya membuat badan menjadi kaku saja, yang biasa kita kenal dengan kejang tonik.
  4. Kejang yang hanya terjadi pada beberapa bagian tubuh saja, misal hanya tangan saja, hanya kaki saja, dan hanya sebelah bagian tubuh saja, yang kita kenal dengan kejang klonik.
  5. Terjatuh, kejang tipe ini biasanya disebut kejang tipe atonik yaitu pada kejang tipe ini penderita akan mendadak kehilangan tenaga dari otot-otot tubuh yang mempertahankan sikapnya.


Itu beberapa bentuk kejang yang bisa pembaca ketahui dan bisa diamati pada seseorang ya. Jadi sudah tidak bingung lagi untuk mencurigai apakah seseorang ini sedang ada serangan kejang atau tidak.


Terus bila kita sudah bisa mencurigai kira-kira orang disekitar kita mengalami kejang atau tidak maka apa yang bisa kita lakukan?


Hal yang bisa kita lakukan pertama kali yaitu menstabilkan posisi penderita meliputi usaha usaha mempertahankan dan memperbaiki fungsi vital yang mungkin dapat terganggu, misalnya jalan napas yang tersumbat maka anda dapat memeriksa apakah ada sumbatan pada hidung dan mulut penderita yang dapat menyebabkan sistem pernapasan penderita terganggu. Kemudian setelah menstabilkan keadaan penderita maka langsung bawa penderita ke unit gawat darurat terdekat agar dapat diberikan pengobatan yang lebih lanjut. 



Sekian dulu ya penjelasan mengenai status epileptikus, bila ada pertanyaan boleh balas di kolom komentar dan mari kita bahas bersama! Semoga informasinya bermanfaat. 


Referensi: 


1. Wylie T, Sandhu DS, Murr N. Status Epileptikus. [Diperbarui 2021 Agustus 1]. Di: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): Penerbitan StatPearls; 2022 Jan-.

2. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: panduan praktek Klinis neurologi. Perdossi: 2016.

3. Hall, John E.. (2016). Guyton and Hall: Textbook of Medical Physiology (13th ed.). Philadelpia,PA: Elsevier.